Udara sejuk mengiringi momen sakral pelantikan pengurus IAMQ Jogja periode 2025-2027 di Wisma Bumiputera, Kaliurang. Sabtu, 18 Agustus 2025, sekitar 45 pasang mata menyaksikan prosesi pelantikan pengurus baru yang dipimpin oleh H. Syafi’i Budi selaku Sekretaris Umum Pengurus IAMQ Pusat. Delegasi HIMASAKTI (Himpunan Mahasiswa Santri Alumni Keluarga Tebuireng) yang juga menghadiri pelantikan malam itu menambah keakraban dan kehangatan alumni se-Tebuireng yang sama-sama merantau untuk studi di kota istimewa. “Sebelum pulang ayo foto dulu, nanti kita tunjukkan ke kiai-kiai kita bahwasanya kita bersatu dan selamanya bersatu.” Kelakar Kaji Budi—panggilan akrab H. Syafi’i Budi—kepada teman-teman HIMASAKTI.
Acara pelantikan dilangsungkan bersamaan dengan kegiatan malam keakraban (makrab) bagi mahasiswa baru angkatan 2025. Acara yang berlangsung selama dua hari satu malam ini mengangkat tema “Revitalisasi IAMQ: Menyemai Solidaritas, Meneguhkan Identitas” yang mana memberikan spirit kepada pengurus baru dan anggota IAMQ Jogja bahwasanya rasa-rasa persaudaraan harus direkatkan kembali demi eksistensi almamater tercinta. Solidaritas harus tumbuh di tengah-tengah kehidupan alumni MQ Tebuireng di Yogyakarta dan memberikan warna baru di lingkungan baru. Pengurus baru diharapkan dapat mencanangkan kegiatan-kegiatan yang telah lama menjadi tradisi di pondok sehingga MQ bisa dikenali melalui keberadaan alumninya.
Setelah prosesi pelantikan, mahasiswa baru mendapatkan studium generale yang disampaikan oleh H. Syafi’i Budi, juga Pembina IAMQ Jogja, K.H. Edy Musoffa. Dalam presentasi studium generale oleh H. Syafi’i Budi, beliau menyampaikan bahwasanya IAMQ adalah rumah kedua, pada saat kehabisan uang, sakit dan sebagainya IAMQ selalu terbuka untuk menerima kita. “Mbah Yusuf, Hadratussyekh itu sampai sekarang masih hidup. Dan mungkin hadir di sekeliling kita. Namun kita saja yang kurang keyakinannya. Bagaimana kita mau bertemu? Namun kita sendiri tidak pernah yakin bahwa beliau-beliau masih hidup hingga sekarang.” Ungkap H. Budi yang memantik keyakinan peserta malam itu. Di bagian akhir presentasinya, H. Budi mengingatkan bahwasanya kita sebagai alumni harus hadir di hari Ahad terakhir bulan Syawal untuk Halal Bi Halal dan temu alumni di Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an tercinta.
Kedatangan K.H. Edy Mushoffa mengobati kerinduan para alumni terhadap guru-guru di Tebuireng, bertambah malam suasana semakin khidmat dan penuh haru. Kehormatan bagi para alumni dengan kehadiran beliau di tengah kesibukan yang super padat. Kiai Edy bercerita dengan sangat detil tentang K.H. Yusuf Masyhar, Hadratussyekh K.H. M. Hasyim Asy’ari, K.H. Syansuri Badawi, Ny. Hj. Ruqoyyah dan guru-guru yang lain. Peserta terlarut dengan kisah-kisah yang disampaikan seolah-olah malam hari itu kita hidup di tengah kehidupan beliau-beliau. Kiai Edy menyampaikan bahwasanya beliau hingga hari ini masih mengajar TPA untuk anak-anak TK hingga SMA, “Ini ikhtiar saya untuk selalu menghidupkan, mendaras dan mengajar Al-Qur’an” ucap beliau memotivasi alumni yang hadir. Bagi Kiai Edi, santri MQ harus berani, beliau bercerita di tahun 1990 pada saat beliau diberikan kesempatan oleh Dr. K.H. A. Musta’in Syafii untuk khotbah Jumat di Masjid Pesantren Tebuireng. Saat itu beliau menolak namun Kiai Musta’in meyakinkannya “MQ kudu wani, siapo!” Terakhir Kiai Edy berpesan bahwasannya kita selamanya harus menjaga, mengaji dan mengajarkan Al-Qur’an, mengutip nasehat Imam Hasan al-Bashri bahwa semua yang ada di kita akan menjadi sampah kecuali Al-Qur’an. Kalau kita yang membuang Al-Qur’an maka kita yang menjadi sampah.
Acara berlanjut dengan kegiatan malam keakraban di halaman wisma. Api unggun malam itu menciptakan kehangatan di tengah sejuknya udara Kaliurang. Api tidak hanya membakar kayu bakar saja, namun membakar semangat peserta untuk mengaji dan mengabdi pada Al-Qur’an dan almamater tercinta. Keesokan harinya, acara dilanjutkan dengan sesi riang gembira yang diisi dengan senam dan games. Dua hari satu malam itu memberikan makna mendalam juga tugas-tugas yang diemban oleh alumni MQ di Yogyakarta. Alumni harus menjadi brosur hidup dan mewarnai kota istimewa dengan kehidupan yang bernafaskan Al-Qur’an.
