Oleh: a.f ubaidillah @karebet__
“Dulu diriku sering berlari untuk menuju satu tujuan, tetapi sekarang diriku sadar bahwa melangkah lebih pelan agar tak lupa untuk mensyukuri nikmat perjalanan. Sebab ketergesaan cenderung menghilangkan nikmat keindahan”
Atas nama perjalanan, kadangkala tidak melulu tentang pembuktiaan atas diri sendiri, bukan juga tentang pembuktiaan atas apa yang kita mau. Tetapi, perjalanan kadang mengajarkan bagimana cara melepaskan topeng dari semua kepalsuaan kita yang bukan asli diri kita. Mencoba melepas senyum tulus agar terlihat seperti orang-orang sekarang, melepaskan sulaman tawa kusut agar terlihat seperti manusia kuat. Tetapi hal seperti itu yang memaksamu menjadi individu lain di atas diri kita sendiri.
Di lain sisi perjalanan, kadang ia mengajarkan bagaimana cara menerima, menerima sebagai bentuk manusia, menerima sebagai bentuk jiwa yang siap menampung kelapangan, menerima sebagai bentuk kekecewaaan sebagai manusia yang hidup saling berdampingan. Apa boleh buat? Memang perjalanan tidak akan bisa menjamin manusia menerima jalan mulus, tetapi dari perjalanan itu individu manusia akan siap belajar bagaimana arti dari kemungkinan-kemungkina yang akan datang. Hal itulah yang akan membuat manusia memiliki hati sekuat tebing dipinggir Pantai. Dari perjalanan itu manusia akan belajar mengapa ia di ciptakan sebagai bentuk manusia? Dari perjalanan itu pula manusia akan terus mencari. Mencari bentuk kesempurnanan hidup, mencari kelapangan hidup dan mencari segala yang mereka rasa inginkan.
Maka manusia kalau menuruti bentuk semacam itu, manusia tidak akan merasa cukup dengan apa yang mereka cari. Manusia akan terus mencari, bagaimanapun itu. Sebab kelebihan manusia yang diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang sempurna memiliki akal untuk terus mencipta. Pembuktiaan atas sifat manusia akan terus beranjak, yang semula lahir dari rahim, mencari asi untuk kebutuhan, yang semula meminum asi akan mencari kebutuhan makanan, yang semula membutuhkan makanan ia akan membutuhkan rangkulan dan begitu seterusnya hingga ia merasa puas. Tetapi kebutuhan akan pembuktiaan ini tidak akan bisa lepas dengan manusia yang terus mencari, baik mencari kebenaran, cinta, pengetahuan dan segala bentuk kemungkinan hidup. Tidak heran jika manusia sekarang (modern) cenderung sebagai manusia yang over obsesi, over realita dan over media, sehingga ia tidak mengenal apa arti sebenarnya dari pembuktian sebagai manusia?
Maka, secara tidak langsung, orang-orang sekarang yang hidup di tengah gempuran over-kehidupan, manusia menemukan ketenangan di tengah ketidakpastian kehidupan dan menjadi ajang perlombaan. Pembuktiaan atas hal itu menandakan bahwa orang-orang sekarang terkendalikan oleh filter bubble teknologi, dimana algoritma mesin pencariaan media sosial memilah berdasarkan pada riwayat, perilaku, dan referensi pencariaan mereka dalam algoritma teknologi. Secara tidak langsung, kemungkinan yang ditampilkan oleh filter bubble akan mengeser pola kehidupan manusia menuju manusia yang modern. Sederhananya, manusia tereksploitasi atas dirinya sendiri yang akhirnya membawa pada satu tatanan kehidupan yang tidak memperdulikan diri sendiri sebagai individu manusia yang sadar dan outentik. Seperti halnya individu manusia menginginkan kesempurnaan pada segala bentuk hal, tetapi nyatanya pembuktian itu pada akhirnya tidak menemukan makna asli, hal itu pula manusia tidak menemukan makna yang sebenarnya.
Dalam pernyataan Byung Chul Han (The Burnout Society) situasi masyarakat masa kini dicirikan sebagai kehidupan yang memiliki pola Narsisme. Dimana individu manusia dalam mengendalikan kehidupannya cenderung, dikendalikan oleh keinginan diri sendiri yang memaksakan kehendaknya atas nilai-nilai orang lain, sehingga batas kendali dari kehendak tersebut cenderung tergeser, dan pada akhirnya manusia kehilangan atas rasa empati terhadap diri sendiri dan orang lain. Secara tidak langsung, masyarakat sekarang atas dasar pembuktian sebagai manusia, cenderung over dalam memaknai perkembangan. Dan orang-orang sekarang yang kelelahan akan hal tersebut disebabkan oleh produktifitas kehidupan yang terlalu mementingkan aspek tuntutan kreativitas yang pada akhirnya tidak bisa terkendali oleh kebutuhan.
Artinya, secara tidak langsung, orang sekarang kalau kata Pramoedya Ananta Toer adalah buruh yang tereksploitasi atas diri sendiri. Kita, individu manusia sekarang menjadi budak atas diri kita sendiri, bukan menjadi tuan atas dirinya sendiri, yang merdeka, yang mengerti kapasitas dan yang mengerti keadaan atas kebebasan ini. Maka dalam bukunya Pak Fahrudin Faiz yang berjudul Meniti Jalan Kembali di gambarkan bahwa “pembuktian sebagai manusia atas diri sendiri bukan hanya tentang melawan dunia, tetapi bagaimana caranya tetap tegak berdiri di tengah arus yang tidak melulu berpihak pada apa yang kita suka”
Hal-hal seperti itu perlu untuk terus digarisbawahi, kalau kita sebagai manusia yang memiliki keterbatasan pada apa yang tidak bisa kita lakukan semua, atas pembuktiaan sebagai manusia apa yang tidak bisa kita cengkram dengan erat jangan terlalu dipaksakan sebagai pembuktiaan. “Pasir pantai semakin kita genggam secara erat, semakin tumpah menjadi kepingan yang berhamburan. Maka menyadari keterbatasan itu adalah salah satu pembuktian sebagai manusia, kalu kita tetap berada pada pikiran yang sadar dan rasional.”
Jangan terlalu dipaksakan yaa… nanti sakit!
Danke!